Jumat, 22 Juni 2012

AKRONIM DAN SINGKATAN


LEKSIKOLOGI BAHASA JAWA
                                  Makna Akronim dan Singkatan dalam Bahasa Jawa       


Oleh:
Dian Kurniawati
C0110015

Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Sastra Daerah untuk Sastra Jawa
Universitas Sebelas Maret Surakarta

BAB I
PENDAHULUAN
A.                LATAR BELAKANG MASALAH
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Penyingkatan merupakan gejala umum dalam bahasa Jawa. Orang suka membuat singkatan, untuk efisiensi. Dalam hal ini penulisan buku, misalnya bausastra atau kamus, penulis cenderung untuk membuat singkatan yang sebelumnya diterangkan di dalam suatu daftar singkatan. Sedangkan akronim, ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. Singkatan merupakan kependekan bentuk (kata atau kelompok kata) yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dilafalkan huruf demi huruf ataupun yang tidak. Sedangkan Akronim yaitu kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.

B.                 RUMUSAN MASALAH
1.      Apa makna dari singkatan dan akronim?
2.      Apa saja contoh dari singkatan dan akronim yang terdapat dalam bahasa jawa?

C.                TUJUAN PENULISAN
Agar kita dapat mengetahui tentang makna dari singkatan serta akronim yang sebenarnya sering kita gunakan dan kita perdengarkan dalam kehidupan kita sehari – hari. Dan untuk mengetahui beberapa contoh dari singkatan dan akronim yang biasa kita gunakan dalam konteks bahasa jawa.

D.                 MANFAAT PENULISAN
Penulisan ini dapat memberikan pengetahuan baru terhadap masyarakat pada umumnya tentang singkatan dan akronim. Sehingga dapat mempergunakannya dengan baik. Dapat menjadikan masyarakat lebih kreatif dalam memberi singkatan atau akronim baru yang dapat digunakan.



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Singkatan
Penyingkatan merupakan gejala umum dalam bahasa Jawa. Orang suka membuat singkatan, untuk efisiensi. Dalam hal ini penulisan buku, misalnya bausastra atau kamus, penulis cenderung untuk membuat singkatan yang sebelumnya diterangkan di dalam suatu daftar singkatan. Bentuk yang disingkat pada umumnya lebih panjang daripada singkatannya. Singkatan dapat disejajarkan dengan kata. Singkatan dalam bahasa Jawa dapat dijumpai dalam singkatan nama gelar bangsawan, singkatan dalam buku-buku. Singkatan memendekkan beberapa kata dengan memanfaatkan huruf awal dari kata-kata yang hendak dipendekkan dan ditulis dalam huruf kapital tanpa memberi tanda titik. Singkatan pada umumnya banyak terdapat dalam bahasa Indonesia.  Dalam bahasa Jawa banyak pula ditemui singkatan – singkatan. Seperti yang terdapat dalam gelar kebangsawanan.

Seperti contoh berikut :

1.    S.I.S.K.S         : Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan.
2.    K.P.H.             : Kanjeng Pangeran Harya.
3.    G.P.H.             : Gusti Pangeran Harya.
4.    B.R.M.            : Bandara Raden Mas.
5.    G.R.Ay.           : Gusti Raden Ayu.
           6.    R.T.                : Raden Tumenggung.
           7.    K.R.T.             : Kanjeng Raden Tumenggung

Selain dalam gelar kebangsawanan seperti contoh diatas, adapula singkatan yang terdapat dalam buku – buku. Seperti contohnya;

1.    ki                     : krama inggil
2.    ku                    : krama ngoko
3.    lsp                    : lan sapanunggalane
4.    ip                     : inggih punika
5.    JB                    : Jaya Baya
6.    PS                    : Penyebar Semangat
7.    LSW                : layang Saka Warga
Singkatan juga sering menjadi sasaran plesetan. Baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Jawa. Berikut contohnya:
1.    RSS              -->    ( Rumah Sangat Sederhana )       -->                 Rumah Sangat Sengsara.
2.    KUHP           -->    ( Kitab Undang – Undang Hukum Pidana)    --> Kasih Uang Habis Perkara.
3.    Perbangkin    -->    ( Persatuan Bank Indonesia)      -->          Persatuan Bathuk Kinclong.



 2.    Akronim
Untuk singkatan yang tidak dapat diucapkan sebagai mana layaknya sebuah kata, maka penulisannya adalah seperti apa yang terucap dari singkatan itu.  Pengakroniman sebenarnya hampir sama dengan penyingkatan, hanya saja secara tegas dinyatakan bahwa pengakroniman merupakan penyingkatan yang pelafalannya seperti kata. Singkatan dan akronim itu lazimnya dibuat berdasarkan atas tulisan beraksara latin. Sedangkan akronim yang bisa diucapkan sebagai kata, maka dituliskan sebagai mana layaknya sebuah kata. Akronim dalam bahasa Jawa misalnya dijumpai di dalam:
1.    Nama paguyuban.
a.       Pakasa            : Paguyuban Karaton Surakarta.
b.      Sangpawara     : Sanggar Pasinaon Pambiwara.
c.  Pasipamarta     : Paguyuban Purna Siswa Pambiwara Marcukundha Karaton Surakarta Hadiningrat.
d.      Purigadhing     : Campur Sari Warga Gadhing.

2.    Nama panggilan.
a.       Budhe : Ibu gedhe.
b.      Pakdhe : Bapak gedhe.
c.       Bulik    : Ibu cilik.
d.      Paklik : Bapak cilik.

3.    Jarwa dhosok.
a.    Kathok                                 : Diangkat sithok-sithok.
b.    Guci lenga kayu gayuk           : Lugu suci mentheleng lunga, kaku ngguyu lega sayuk.
c.    Pilus                                    : Pipi alus.
d.   Dhekwur                              : Cendhek dhuwur.
e.    Thukmis                              : Bathuk klimis.
f.     Lunglit                                : Balung kulit.
g.    Krikil                                  : Keri nyang sikil.
h.    Tuan sinyo                          : Untu gedawan, gusi menyonyo
i.      Mercy                                : Pamer gusi


4.    Ajaran atau semboyan.
5.    Istilah populer.
a.    Bonek                                 : bandha nekat
b.    Congdhut                            : keroncong ndhangdhut
c.    Ciblek                                 : cilik betah melek
Adapula akronim yang menyingkatkan sebuah daerah tertentu. Seperti misal :
1.    Semarang Solo Yogya                                                  --> Semar Loyo.
2.    Batang, Pemalang, Semarang , Kendal                           --> Dibalang Sendal Purwodadi.
3.    Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten              --> Kasur Bosok.
4.    Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu   --> Susu Mbokde.
5.    Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap        -->  Tanteku Montok

Adapula akronim yang menggunakan nama orang. Contoh:

1.    Willem Ortano         -->       Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.
2.    Toni Boster             -->       Waton Muni Ndobose Banter.



BAB III
KESIMPULAN
Kita mengetahui kini bahwa penyingkatan merupakan gejala umum dalam bahasa Jawa. Orang suka membuat singkatan, untuk efisiensi. Baik itu dalam bahasa Indonesia atau pun bahasa Jawa. Baik itu umum atau plesetan. Semua singkatan bertujuan untuk efisiensi. Singkatan memendekkan beberapa kata dengan memanfaatkan huruf awal dari kata-kata yang hendak dipendekkan dan ditulis dalam huruf kapital tanpa memberi tanda titik.
Sedangkan akronim merupakan  yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Bisa  diucapkan sebagai kata, maka dituliskan sebagai mana layaknya sebuah kata. Sebagian akronim berupa plesetan. Baik dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.


 
DAFTAR PUSTAKA






                                        







   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar